Minggu, 18 Januari 2015

Model Praktik Keperawatan Profesional

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
Hoffart dan Woods (1996) mendefinisikan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) sebagai suatu sistem yang meliputi struktur, proses, dan nilai profesional yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan dan mengatur lingkungan untuk menunjang asuhan keperawatan. sebagai suatu model berarti sebuah ruang rawat dapat menjadi contoh dalam praktik keperawatan profesional di rumah sakit. Model ini berfokus pada hubungan caring antara klien/ keluarga dan perawat (Sitorus, 2006). Pada evaluasi pelaksanaan model didapatkan peningkatan kepuasan perawat dan kepuasan klien setelah model dilaksanakan (Sitorus & Panjaitan, 2011).
2.2 Tingkatan MPKP
Menurut sitorus (2006) kategori MPKP dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat pendidikan Perawat Primer (PP) menjadi:
1)      MPKP Pemula
Pada tingkat ini kategori pedidikannya PP masih DIII dan diharapkan nantinya PP mempunyai kemampuan sebagai SKP/Ners melalui kesempatan  peningkatan pendidikann. Praktik keperawatan pada tingkat ini diharapakan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat pemula dengan metode pemberian asuhan keperawatan modifikasi keperawatan primer. Ketenagaan pada tingkat ini jumlah harus sesuai kebutuhan, SKp/Ners (1:25-30 klien), DIII keperawatan sebagai perawat primer pemula, SPK/DIII keperawatan sebagai PA. Dokumentasi keperawatan mengacu standart rencana perawatan masala aktual.
2)      MPKP tingkat I
MPKP tingkat I, PP adalah SKP/Ners, agar PP dapat memberikan asuhan keperawatan berdasarkan ilmu dan teknologi diperlukan kemampuan seorang ners spesialis yang akan berperan sebagai clinical care manager (CCM). Praktik keperawatan pada tingkat ini diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat I dengan metode  pemberian asuhan keperawatan modifikasi keperawatan primer. Ketenagaan pada tingkat ini jumlah harus sesuai kebutuhan, ners spesialis (1:25-30 klien) sebagai CCM, SKp/Ners sebagai PP, DIII keperawatan sebagi PA. Dokumentasi keperawatan mengacu standar rencana perawatan masalah aktual dan masalah risiko.
3)      MPKP tingkat II
Praktik keperawatan pada tingkat ini diharapkan mampu memberikan modifikasi keperawatan primer/asuhan keperawatan profesional tingkat II. Metode pemberian asuhan keperawatan adalah manajemen kasus dan keperawatan. jumlah ketenagaan sesuai kebutuhan, ners spesialis:PP (1:1), ners spesialis sebagai CCM, SKp/Ners sebagai PP, DIII keperawatan sebagai PA. Dokumentasi menggunakan clinical pathway dab standar rencana keperawatan. pada MPKP tingkat II dibutuhkan minimal 1 orang CCM dengan kemampuan ners spesialis.
4)      MPKP tingkat III
Praktik keperawatan diharapakan mampu memberiakn modifikasi keperawatan primer/asuhan keperawatan profesional tingkat III. Metode pemberian asuhan keperawatan adalah manajemen kasus. Jumlah tenaga sesuai kebutuhan, doktor keperawatan klinik sebagai konsultan, ners spesialis:PP (1:1) ners spesialis sebagai CCM, DIII keperawatan sebagai PA. Dokumentasi keperawatan menggunakan clinical pathway/standar rencana keperawatan. pada MPKP tingkat II, perawat dengan kemampuan sebagai ners spesialis ditingkatkan menjadi doktor keperawatan, sehingga diharapakan perawat lebih banyak melakukan penelitian keperawatan yang dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan sekaligus mengembangkan ilmu keperawatan.
2.3 Sub sistem MPKP
Berdasarkan MPKP yang sudah dikembangkan diberbagai rumah sakit, Hoffart dan Woods (1996) menyimpulkan bahwa MPKP terdiri dari lima komponen, yaitu:
1)      Nilai profesional
Pengembangan MPKP didasarkan pada nilai profesional. Nilai profesional merupakan inti dari MPKP, yang meliputi nilai intelektual, komitmen moral, otonomi, kendali dan tanggung gugat. Nilai intelektual didapatkan melalui pendidikan formal dan informal (Nurhayandari, 2007). Keperawatan merupakan profesi didasarkan pada caring. Caring merupakan arti perhatian, tanggung jawab, dan ikhlas (Kozier & Erb, 1997). Perwata sebagai sebuah profesi, dalam menjalankan praktik keperawatan harus sesuai dengan kode etik keperawatan. Sumijatun (2010) menyatakan kode etik perawata adalah suatu pernyataan atau keyakinan yang mengungkapkan kepedulian moral, nilai dan tujuan keperawatan.
2)      Pendekatan manajemen
Pendekatan manajemen digunakan untuk mengelola sumber daya yang ada meliputi: ketenagaan, alat, fasilitas, serta menetapkan standar asuhan keperawatan (SAK). Pada MPKP ini pendekatan manajemen tampak pada peran pada perawat primer sebagai pembuat keputusan untuk pasien sebagai manager asuhan klinik. Kepala ruang berperan sebagai fasilitator atau mentor (sitorus & panjaitan, 2011).
3)      Sistem pemberian asuhan keperawatan
Sistem pemberian asuhan keperawatan (care delivery system) merupakan metode penugasan bagi tenaga perawat yang digunakan dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada klien. Sistem atau metode tersebut merefleksikan falsafah organisasi, struktur, pola ketenagaan dan populasi klien. Saat ini dikenal lima jenis metode pemberian asuhan keperawatan, yang terdiri dari:
a.       Private Duty Nursing
Private duty nursing sering disebut dengan sistem keperawatan kasus (case nursing) yaitu seorang perawat merawat seorang klien. Asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien secara menyeluruh dilakukan oleh seorang perawat baik di rumah sakit maupun di rumah. Jika dilakukan di rumah, perawat berfungsi sebagai manajer rumah tangga karena juga melakukan kegiatan rumah tangga.
·         Keuntungan :
-          Sistem pemberian asuhan yaitu memungkinkan perawat hanya memfokuskan kepada kebutuhan satu klien saja sehingga membina hubungan yang akrab dan memuaskan terhadap klien.
·         Kelemahan:
-          Mahal karena kurang efisien dan mobilitas perawat juga jadi terbatas dan terisolasi dari rekan kerja lainnya.
Metode ini selanjutnya dikembangkan menjadi keperawatan berkelompok (group nursing). Pada dasarnya keperawatan kelompok ini merupakan perubahan dari private duty yang semula dilakukan secara individual menjadi praktik kelompok yang terpadu dengan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat, sehingga sekelompok perawat merawat sekelompok klien.
b.      Functional Nursing
Keperawatan fungsional (functional nursing) dilakukan dengan tiap perawat bekerja berdasarkan tugas spesifik dan bersifat teknis seperti memberi obat, memandikan klien atau mengukur tanda vital. Perawat mengidentifikasi tugas yang dilakukan pada setiap shift dinas. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien.
·         Kelebihan:
-          Sistem fungsional yaitu secara administratif sangat efisien karena setiap perawat mendapat tugas yang spesifik untuk sejumlah pasien dan mudah dilakukan serta tidak membingungkan.
-          Perawat terampil untuk tugas / pekerjaan tertentu.
-          Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai melaksanakan tugas.
-          Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas sederhana.
-          Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang praktik untuk keterampilan tertentu.
·         Kelemahan:
-          Sistem ini tidak memungkinkan klien untuk menerima asuhan keperawatan secara holistik dan manusiawi dengan keunikan kebutuhan tiap klien sehingga sulit untuk memuaskan klien.
-          Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau tidak total sehingga proses keperawatan sulit dilakukan.
-          Apabila pekerjaan selesai perawat cenderung meninggalkan klien dan melakukan tugas non-keperawatan.
-          Perawat dengan kompetensi professional cenderung merasa bosan dan tidak dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan klien. Walaupun secara  ekonomi, sistem ini menguntungkan karena pekerjaan bisa dibagi dan dilaksanakan oleh tenaga terampil yang tidak membutuhkan pendidikan tinggi.
-          Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi konstribusinya terhadap pelayanan klien.
-          Perawat hanya bisa melihat asuhan keperawatan sebagai keterampilan saja.


c.       Team Nursing
Keperawatan tim (team nursing), diberikan oleh tim yang terdiri dari beberapa perawat dan tenaga penunjang keperawatan. Setiap tim terdiri dari ketua tim dan beberapa anggota tim, tim ini merawat beberapa pasien tertentu, satu tim terdiri dari ketua tim dan beberapa anggota tim yang bertugas untuk merawat sejumlah klien. Setiap anggota tim terlibat dalam pemberian asuhan yang menjadi tanggung jawab tim. Setiap anggota tim mengenal klien dan dapat berkomunikasi dengan klien. Begitu pula beban kerja lebih menyebar dan pendelegasian lebih berkembang.
·         Kelebihan:
-          Sistem ini adalah mengusahakan peningkatan kepuasan pasien dan staf perawat pada batas efisiensi biaya.
-          Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal.
-          Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komperhensif.
-          Memungkinkan pencapaian proses keperawatan.
-         Konflik atau perbedaan pendapat antar-staf dapat ditekan melalui rapat tim, cara ini efektif untuk belajar.
-          Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.                                
·         Kelemahan:
-        Memungkinkan terjadinya keterlambatan tindakan.
-       Terjadi salah komunikasi, pendelegasian dilakukan secara bertingkat, dan tanggung jawab tim sukar diterjemahkan. Keberhasilan tim sangat ditentukan oleh kemampuan ketua tim untuk memimpin tim.
-    Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
-          Akuntabilitas dalam tim kabur.
d.      Primary Nursing
Keperawatan primer (primary nursing) merupakan pendekatan yang memungkinkan perawat untuk bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap klien mulai dari masuk hingga ke luar dari rumah sakit. Perawat primer melakukan proses keperawatan secara menyeluruh selama klien dirawat di rumah sakit dan bertanggung jawab selama 24 jam yang memungkinkan kesinambungan asuhan keperawatan terhadap klien.
·         Kelebihan:
-       Sistem ini adalah berfokus pada kebutuhan klien yang memberikan otonomi kepeda keperawatan dan kesinambungan asuhan.
-          Model praktik keperawatan professional dapat dilakukan atau diterapkan.
-          Memungkinkan asuhan keperawatan yang komprehensif.
-          Memungkinkan penerapan proses keperawatan.
-          Memberikan kepuasan kerja bagi perawat.
-          Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.
·         Kelemahan:
-   Sistem keperawatan hanya dapat dilakukan oleh perawat dengan kemampuan professional dan biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.
e.       Case Management
Manajemen kasus, yaitu suatu sistem pemberian asuhan klien yang berfokus pada pencapaian keberhasilan klien dengan menggunakan waktu dan sumber secara efisien dan efektif. Sistem ini adalah pemberian, koordinasi dan pemantauan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan klien melalui pendekatan multidisiplin pada semua tatanan dan rentang pelayanan kesehatan. Asuhan dikoordinasi oleh manajemen kasus (case management), selayaknya perawat.
4)      Hubungan profesional
Pengembangan MPKP memungkinkan terjadinya hubungan profesional di antar perawat dan praktisi kesehatan lainnya. Hubungan ini dapat terjadi melalui sistem pendokumentasian keperawatan, operan tugas jaga, konferensi awal dan akhir, dan pembahasan kasus. Hubungan profesional dengan praktisi kesehatan lain dikenal dengan kolaborasi. Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Konferensi dilakukan setelah melakukan operan dinas, sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas PP. Konferensi bertujuan untuk:
a)      Membahas masalah setiap klien berdasarkan rencana perawatan yang telah dibuat PP.
b)      Menetapkan klien menjadi tanggung jawab masing-masing PA.
c)      Membahas rencana tindakan keperawatan untuk setiap klien setiap harinya.
d)     Mengidentifikasi tugas PA untuk setiap klien yang menjadi tanggung jawabnya.
5)      Kompensasi dan penghargaan
Pada suatu layanan profesional, seorang mempunyai hak atas kompensasi dan penghargaan. Kompensasi merupakan salah faktor yang dapat meningkatkan motivasi pada MPKP karena masing-masing perawat mempunyai peran dan tugas yang jelas sehingga dapat dibuat klasifikasi yang obyektif sebagai dasar pemberian kompensasi dan penghargaan. Notoatmodjo (2009) menyatakan dengan pemberian kompensasi yang memadai merupakan suatu penghargaan organisasi terhadap prestasi kerja para karyawannya, sehingga akan dapat mendorong perilaku-perilaku atau performence karyawan sesuai dengan yang diinginkan organisasi. Disamping itu kompensasi juga dapat mempengaruhi prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan.
           
Menurut sitorus (2006) berdasarkan tingkat perkembangan keperawatan di Indonesia untuk dapat menerapkan MPKP faktor ketenagaan harus dipertimbangkan, yang meliputi,
1)      Jenis tenaga keperawatan
Masing-masing negara jenis tenaga keperawatannya berbeda-beda tergantung pada tingkat perkembangan profesioanlisme keperawatan. adanya perbedaan jenis tenaga keperawatan diharapkan dapat dikembangnkan berdasarkan pengertian bahwa keperawatan adalah suatu profesi yang mandiri (kozier et al, 1997; chitty, 1997). Saat ini Indonesia terdapat tiga jenis tenaga yang melakukan praktik keperawatan, yaitu lulusan sekolah perawat kesehatan (SPK), lulusan DIII keperawatan, dan sarjana keperawatan/ners. Pada ruang MPKP terdapat beberapa jenis tenaga yang memberikan asuhan keperawatan yaitu clinical care manajer (CCM), perawat primer (PP), dan perawat asosiet (PA). Selain jenis tenaga tersebut terdapat kepala ruangan yang bertanggung jawab terhadap manajemen pelayanan keperawatan di ruang rawat tersebut. Peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan dan terdapat tanggung jawab yang jenis dalam pemberian sistem asuhan keperawatan (sitorus, 2006).
2)      Jumlah tenaga keperawatan
Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah klien dan derajat ketergantungan klien terhadap perawatan. Menurut Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) membagi klasifikasi klien berdasarkan tingkat ketergantungan klien dengan menggunakan standar sebagai berikut:
a)      Kategori I: self care/perawatan mandiri, memerlukan waktu 1-2 jam/hari
·         Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
·         Makanan dan minuman dilakukan sendiri
·         Ambulansi dengan pengawasan
·         Observasi TTV setiap pergantian shift
·         Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil
·         Perawatan luka sederhana
b)      Kategori II: intermediate care/perawatan partial, memerlukan waktu 3-4 jam/hari
·         Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
·         Observasi TTV setiap 4 jam
·         Ambulasi dibantu
·         Pengobatan dengan injeksi
·         Klien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran dicatat
·         Klien dengan infus dan klien dengan pungsi pleura
c)      Kategori III: total care/intensif care, memerlukan waktu 5-6 jam/hari
·         Semua kebutuhan klien dibantu
·         Perubahan posisi setiap dua jam dengan bantuan
·         Onservasi TTV setiap dua jam

Pada MPKP digunakan metode modifikasi keperawatan primer, sehingga terdapat satu orang perawat profesioal yang disebut perawat primer yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan pada sekelompok pasien. Disamping itu, CCM yang mengarahkan dan membimbing PP dalam memberikan asuhan keperawatan. CCM diharapkan akan menjadi peran ners spesialis pada masa yang akan datang.

2.6.4    Tugas dan Tanggung Jawab Perawat dalam MPKP
            Menurut Sitorus (2006) berikut tugas dan tanggung jawab masing-masing kepala ruangan, CCM, PP dan PA dlam ruangan MPKP.
1)      Tugas dan tanggung jawab kepala ruangan
a.       Mengatur diskusi dengan staf untuk ememcahkan masalah di ruangan
b.      Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah di ruangan
c.       Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan klien dan keuarga dan tim kesehatan lain
d.      Memeriksa kelengkapan persediaan status keperawatan
e.       Melaksanakan pembinaan terhadap PP dan PA dalam hal implementasi MPKP
f.       Bila PP cuti tugas dan tanggung jawab PP dapat digantikan PA senior tetapi tetap dengan pengawasan CCM
g.      Memantau dan mengevaluasi penampilan kinerja CCM, PP dan PA
h.      Melakukan pertemuan rutin dengan semua perawat setiap bulan
i.        Merencanakan dan melaksanakan evaluasi mutu asuhan keperawatan bersama CCM
2)      Tugas dan tanggung jawab CCM
a.       Membimbing PP pada implementasi MPKP, kegiatan yang dilakukan adalah :
a)      Bersama dengan PP memvalidasi setiap diagnosis keperawatan yang sudah ditetapkan PP
b)      Membarikan masukan kepada PP dan memberikan pujian terkait dengan diagnosis keperawatan dan renpra yang telah dibuat
c)      Bila pada dokumentasi belum ada renpra, maka bersama-sama PP menetapkan diagnosis dengan menggunakan standar renpra yang sudah disepakati bersama
d)     Membahas tentang pembagian tugas PA bersama PP
e)      Mengoservasi dan memberikan masukan kepada PP terkait dengan bimbingan yang diberikan PP dan PA
b.      Memberikan masukan pada diskusi kasus yang dilakukan PP dan PA
c.       Mempresentasikan isu-isu baru terkait asuhan keperawatan
d.      Mengidentifikasi fakta dan temuan yang memerlukan pembuktian
e.       Mengidentifikasi masalah penelitian
f.       Menerapkan hasil-hasil penelitian dalam asuhan keperawatan
g.      Bekerjasama dengan kepala ruang dalam mengevaluasi mutu asuhan keperawatan dan mengevaluasi implementasi MPKP
h.      Mengevaluasi pendidikan kesehatan yang dilakukan PP
i.        Merencakan pertemuan ilmiah untuk membahas hasil evaluasi asuhan keperawatan
3)      Tugas dan tanggung jawab PP
a.       Melakukan kontrak klien dan keluarga pada awal masuk ruangan
b.      Melakukan pengkajian terhadap pasien baru
c.       Menetapkan rencanakan asuhan keperawatan berdasarkan analisis renpra sesuai dengan hasil pengkajian
d.      Menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan kepada PA dibawah tanggung jawabnya.
e.       Menetakan PA yang bertanggung jawab pada setiap klien, setiap kali giliran  jaga (shift). Pembagian berdasarkan jumlah klien, tingkat ketergantungan kliendan tempet tidur berdekatan
f.       Melakukan bimbingan dan evaluasi PA dalam melakukan tindakan keperawatan
g.      Memonitor dokumentasi
h.      Memantau dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan PA
i.        Me;akukan tindakan keperawatan yang tidak bisa dilakukan oleh PA
j.        Mengatur pelaksanaan kondul da pemeriksaan laboratorium
k.      Melakukan kegiatan serah teria klien dibawah tanggung jawabnya bersama PA
l.        Mendampingi dokter visite klien dibawah tanggung jawabnya. Bila tidak ada, visite didampingi oleh PA sesuai timnya
m.    Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan perkembangan klien setiap hari
n.      Melakukan pertemuan dengan klien/keluarga minimal setiap 2 hari untuk membahas kondisi keperawatan klien (tergantung kondisi klien)
o.      Bila PP cuti, tugas PP didelegasikan kepada PA yang telah ditunjuk dengan bimbingan kepala ruangan / CCM
p.      Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien / keluarga
q.      Membuat perencanaan pulang
r.        Bekerjasama dengan CCM dalam mengidentifikasi isu yang memerlukan pembuktian sehingga tercipta evidence based practice (EBP)
4)      Tugas dan tanggung jawab PA
a.       Membaca renpra yang telah ditetapkan PP
b.      Membina hubungan terapeutik dengan klien / keluarga
c.       Menerima klien baru dan orientasi klien/keluarga jika PP tidak ditempat
d.      Melakukan tindakan keperawatan terhadap klien berdasarkan renpra
e.       Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan mendokumentasikan pada tempat yang tersedia
f.       Mengikuti visite dokter bila PP tidak tersedia
g.      Memeriks kerapian dan kelengkapan status keperawatan
h.      Membuat laporan pergantian dinas dan diparaf
i.        Mengkomunikasikam kepada PP/PJ dinas bila, menemukan masalah yang perlu diselesaikan
j.        Menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik, laboratorium, pengobatan, dan tindakan
k.      Berperan serta memberikan pendidikan kesehatan
l.        Melakukan inventarisasi fasilitas yang terkait dengan timnya
m.    Membantu tim lain yang membutuhkan
n.      Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga klien yang menjadi tanggung jawabnya dan koordinasi dengan PP.


DAFTAR RUJUKAN

Sirait, Y. 2012. Hubungan Penerapan MPKP Pemula dengan Tingkat Kepuasan Kerja Perawat dan Dokter padsa Ruangan MPKP Pemula di RS PGI Cikini Jakarta, (online), (http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20300546-T30437%20-%20Hubungan%20penerapan.pdf, diakses pada 4 Desember 2014).
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar