BAB
II
TINJAUAN
TEORI
2.1
Pengertian Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
Hoffart dan Woods
(1996) mendefinisikan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) sebagai
suatu sistem yang meliputi struktur, proses, dan nilai profesional yang
memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan dan
mengatur lingkungan untuk menunjang asuhan keperawatan. sebagai suatu model
berarti sebuah ruang rawat dapat menjadi contoh dalam praktik keperawatan
profesional di rumah sakit. Model ini berfokus pada hubungan caring antara klien/ keluarga dan
perawat (Sitorus, 2006). Pada evaluasi pelaksanaan model didapatkan peningkatan
kepuasan perawat dan kepuasan klien setelah model dilaksanakan (Sitorus &
Panjaitan, 2011).
2.2
Tingkatan MPKP
Menurut sitorus (2006)
kategori MPKP dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat pendidikan Perawat
Primer (PP) menjadi:
1) MPKP
Pemula
Pada
tingkat ini kategori pedidikannya PP masih DIII dan diharapkan nantinya PP
mempunyai kemampuan sebagai SKP/Ners melalui kesempatan peningkatan pendidikann. Praktik keperawatan
pada tingkat ini diharapakan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional
tingkat pemula dengan metode pemberian asuhan keperawatan modifikasi
keperawatan primer. Ketenagaan pada tingkat ini jumlah harus sesuai kebutuhan,
SKp/Ners (1:25-30 klien), DIII keperawatan sebagai perawat primer pemula,
SPK/DIII keperawatan sebagai PA. Dokumentasi keperawatan mengacu standart
rencana perawatan masala aktual.
2) MPKP
tingkat I
MPKP
tingkat I, PP adalah SKP/Ners, agar PP dapat memberikan asuhan keperawatan
berdasarkan ilmu dan teknologi diperlukan kemampuan seorang ners spesialis yang
akan berperan sebagai clinical care manager (CCM). Praktik keperawatan pada
tingkat ini diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat
I dengan metode pemberian asuhan
keperawatan modifikasi keperawatan primer. Ketenagaan pada tingkat ini jumlah
harus sesuai kebutuhan, ners spesialis (1:25-30 klien) sebagai CCM, SKp/Ners
sebagai PP, DIII keperawatan sebagi PA. Dokumentasi keperawatan mengacu standar
rencana perawatan masalah aktual dan masalah risiko.
3) MPKP
tingkat II
Praktik
keperawatan pada tingkat ini diharapkan mampu memberikan modifikasi keperawatan
primer/asuhan keperawatan profesional tingkat II. Metode pemberian asuhan
keperawatan adalah manajemen kasus dan keperawatan. jumlah ketenagaan sesuai
kebutuhan, ners spesialis:PP (1:1), ners spesialis sebagai CCM, SKp/Ners
sebagai PP, DIII keperawatan sebagai PA. Dokumentasi menggunakan clinical
pathway dab standar rencana keperawatan. pada MPKP tingkat II dibutuhkan
minimal 1 orang CCM dengan kemampuan ners spesialis.
4) MPKP
tingkat III
Praktik
keperawatan diharapakan mampu memberiakn modifikasi keperawatan primer/asuhan
keperawatan profesional tingkat III. Metode pemberian asuhan keperawatan adalah
manajemen kasus. Jumlah tenaga sesuai kebutuhan, doktor keperawatan klinik
sebagai konsultan, ners spesialis:PP (1:1) ners spesialis sebagai CCM, DIII
keperawatan sebagai PA. Dokumentasi keperawatan menggunakan clinical pathway/standar
rencana keperawatan. pada MPKP tingkat II, perawat dengan kemampuan sebagai
ners spesialis ditingkatkan menjadi doktor keperawatan, sehingga diharapakan
perawat lebih banyak melakukan penelitian keperawatan yang dapat meningkatkan
mutu asuhan keperawatan sekaligus mengembangkan ilmu keperawatan.
2.3
Sub sistem MPKP
Berdasarkan MPKP yang
sudah dikembangkan diberbagai rumah sakit, Hoffart dan Woods (1996)
menyimpulkan bahwa MPKP terdiri dari lima komponen, yaitu:
1) Nilai
profesional
Pengembangan
MPKP didasarkan pada nilai profesional. Nilai profesional merupakan inti dari
MPKP, yang meliputi nilai intelektual, komitmen moral, otonomi, kendali dan
tanggung gugat. Nilai intelektual didapatkan melalui pendidikan formal dan
informal (Nurhayandari, 2007). Keperawatan merupakan profesi didasarkan pada caring. Caring merupakan arti perhatian, tanggung jawab, dan ikhlas (Kozier
& Erb, 1997). Perwata sebagai sebuah profesi, dalam menjalankan praktik
keperawatan harus sesuai dengan kode etik keperawatan. Sumijatun (2010)
menyatakan kode etik perawata adalah suatu pernyataan atau keyakinan yang
mengungkapkan kepedulian moral, nilai dan tujuan keperawatan.
2) Pendekatan
manajemen
Pendekatan
manajemen digunakan untuk mengelola sumber daya yang ada meliputi: ketenagaan,
alat, fasilitas, serta menetapkan standar asuhan keperawatan (SAK). Pada MPKP
ini pendekatan manajemen tampak pada peran pada perawat primer sebagai pembuat
keputusan untuk pasien sebagai manager asuhan klinik. Kepala ruang berperan
sebagai fasilitator atau mentor (sitorus & panjaitan, 2011).
3) Sistem
pemberian asuhan keperawatan
Sistem
pemberian asuhan keperawatan (care delivery system) merupakan metode penugasan
bagi tenaga perawat yang digunakan dalam memberikan pelayanan keperawatan
kepada klien. Sistem atau metode tersebut merefleksikan falsafah organisasi,
struktur, pola ketenagaan dan populasi klien. Saat ini dikenal lima jenis
metode pemberian asuhan keperawatan, yang terdiri dari:
a. Private Duty Nursing
Private
duty nursing sering
disebut dengan sistem keperawatan kasus (case
nursing) yaitu seorang perawat merawat seorang klien. Asuhan keperawatan
yang diberikan kepada klien secara menyeluruh dilakukan oleh seorang perawat
baik di rumah sakit maupun di rumah. Jika dilakukan di rumah, perawat berfungsi
sebagai manajer rumah tangga karena juga melakukan kegiatan rumah tangga.
·
Keuntungan
:
-
Sistem
pemberian asuhan yaitu memungkinkan perawat hanya memfokuskan kepada kebutuhan
satu klien saja sehingga membina hubungan yang akrab dan memuaskan terhadap
klien.
·
Kelemahan:
-
Mahal
karena kurang efisien dan mobilitas perawat juga jadi terbatas dan terisolasi
dari rekan kerja lainnya.
Metode ini selanjutnya dikembangkan menjadi
keperawatan berkelompok (group nursing).
Pada dasarnya keperawatan kelompok ini merupakan perubahan dari private duty yang semula dilakukan
secara individual menjadi praktik kelompok yang terpadu dengan pelayanan
keperawatan kesehatan masyarakat, sehingga sekelompok perawat merawat
sekelompok klien.
b. Functional Nursing
Keperawatan fungsional (functional nursing) dilakukan dengan tiap perawat bekerja
berdasarkan tugas spesifik dan bersifat teknis seperti memberi obat, memandikan
klien atau mengukur tanda vital. Perawat mengidentifikasi tugas yang dilakukan
pada setiap shift dinas. Seorang
perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada
di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas
tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua
pertanyaan tentang klien.
·
Kelebihan:
-
Sistem
fungsional yaitu secara administratif sangat efisien karena setiap perawat
mendapat tugas yang spesifik untuk sejumlah pasien dan mudah dilakukan serta
tidak membingungkan.
-
Perawat
terampil untuk tugas / pekerjaan tertentu.
-
Mudah
memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai melaksanakan tugas.
-
Kekurangan
tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu
tugas sederhana.
-
Memudahkan
kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang praktik untuk
keterampilan tertentu.
·
Kelemahan:
-
Sistem
ini tidak memungkinkan klien untuk menerima asuhan keperawatan secara holistik
dan manusiawi dengan keunikan kebutuhan tiap klien sehingga sulit untuk
memuaskan klien.
-
Pelayanan
keperawatan terpilah-pilah atau tidak total sehingga proses keperawatan sulit
dilakukan.
-
Apabila
pekerjaan selesai perawat cenderung meninggalkan klien dan melakukan tugas
non-keperawatan.
-
Perawat
dengan kompetensi professional cenderung merasa bosan dan tidak dapat
berkomunikasi dan berinteraksi dengan klien. Walaupun secara ekonomi, sistem ini menguntungkan karena
pekerjaan bisa dibagi dan dilaksanakan oleh tenaga terampil yang tidak
membutuhkan pendidikan tinggi.
-
Kepuasan
kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi konstribusinya
terhadap pelayanan klien.
-
Perawat
hanya bisa melihat asuhan keperawatan sebagai keterampilan saja.
c. Team Nursing
Keperawatan tim (team
nursing), diberikan oleh tim yang terdiri dari beberapa perawat dan tenaga
penunjang keperawatan. Setiap tim terdiri dari ketua tim dan beberapa anggota
tim, tim ini merawat beberapa pasien tertentu, satu tim terdiri dari ketua tim
dan beberapa anggota tim yang bertugas untuk merawat sejumlah klien. Setiap
anggota tim terlibat dalam pemberian asuhan yang menjadi tanggung jawab tim.
Setiap anggota tim mengenal klien dan dapat berkomunikasi dengan klien. Begitu
pula beban kerja lebih menyebar dan pendelegasian lebih berkembang.
·
Kelebihan:
-
Sistem
ini adalah mengusahakan peningkatan kepuasan pasien dan staf perawat pada batas
efisiensi biaya.
-
Memberi
kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal.
-
Memfasilitasi
pelayanan keperawatan yang komperhensif.
-
Memungkinkan
pencapaian proses keperawatan.
- Konflik
atau perbedaan pendapat antar-staf dapat ditekan melalui rapat tim, cara ini
efektif untuk belajar.
-
Memungkinkan
menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.
·
Kelemahan:
- Memungkinkan
terjadinya keterlambatan tindakan.
- Terjadi
salah komunikasi, pendelegasian dilakukan secara bertingkat, dan tanggung jawab
tim sukar diterjemahkan. Keberhasilan tim sangat ditentukan oleh kemampuan
ketua tim untuk memimpin tim.
- Perawat
yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung
kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
-
Akuntabilitas
dalam tim kabur.
d. Primary Nursing
Keperawatan primer (primary nursing) merupakan pendekatan yang memungkinkan perawat
untuk bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap klien mulai dari masuk
hingga ke luar dari rumah sakit. Perawat primer melakukan proses keperawatan
secara menyeluruh selama klien dirawat di rumah sakit dan bertanggung jawab
selama 24 jam yang memungkinkan kesinambungan asuhan keperawatan terhadap
klien.
·
Kelebihan:
- Sistem
ini adalah berfokus pada kebutuhan klien yang memberikan otonomi kepeda
keperawatan dan kesinambungan asuhan.
-
Model
praktik keperawatan professional dapat dilakukan atau diterapkan.
-
Memungkinkan
asuhan keperawatan yang komprehensif.
-
Memungkinkan
penerapan proses keperawatan.
-
Memberikan
kepuasan kerja bagi perawat.
-
Memberikan
kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.
·
Kelemahan:
- Sistem
keperawatan hanya dapat dilakukan oleh perawat dengan kemampuan professional
dan biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.
e. Case Management
Manajemen kasus, yaitu suatu sistem pemberian asuhan
klien yang berfokus pada pencapaian keberhasilan klien dengan menggunakan waktu
dan sumber secara efisien dan efektif. Sistem ini adalah pemberian, koordinasi
dan pemantauan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan klien melalui
pendekatan multidisiplin pada semua tatanan dan rentang pelayanan kesehatan.
Asuhan dikoordinasi oleh manajemen kasus (case
management), selayaknya perawat.
4) Hubungan
profesional
Pengembangan
MPKP memungkinkan terjadinya hubungan profesional di antar perawat dan praktisi
kesehatan lainnya. Hubungan ini dapat terjadi melalui sistem pendokumentasian
keperawatan, operan tugas jaga, konferensi awal dan akhir, dan pembahasan
kasus. Hubungan profesional dengan praktisi kesehatan lain dikenal dengan
kolaborasi. Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari.
Konferensi dilakukan setelah melakukan operan dinas, sore atau malam sesuai
dengan jadwal dinas PP. Konferensi bertujuan untuk:
a) Membahas
masalah setiap klien berdasarkan rencana perawatan yang telah dibuat PP.
b) Menetapkan
klien menjadi tanggung jawab masing-masing PA.
c) Membahas
rencana tindakan keperawatan untuk setiap klien setiap harinya.
d) Mengidentifikasi
tugas PA untuk setiap klien yang menjadi tanggung jawabnya.
5) Kompensasi
dan penghargaan
Pada
suatu layanan profesional, seorang mempunyai hak atas kompensasi dan
penghargaan. Kompensasi merupakan salah faktor yang dapat meningkatkan motivasi
pada MPKP karena masing-masing perawat mempunyai peran dan tugas yang jelas
sehingga dapat dibuat klasifikasi yang obyektif sebagai dasar pemberian
kompensasi dan penghargaan. Notoatmodjo (2009) menyatakan dengan pemberian
kompensasi yang memadai merupakan suatu penghargaan organisasi terhadap
prestasi kerja para karyawannya, sehingga akan dapat mendorong
perilaku-perilaku atau performence karyawan
sesuai dengan yang diinginkan organisasi. Disamping itu kompensasi juga dapat
mempengaruhi prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan.
Menurut sitorus (2006)
berdasarkan tingkat perkembangan keperawatan di Indonesia untuk dapat
menerapkan MPKP faktor ketenagaan harus dipertimbangkan, yang meliputi,
1) Jenis
tenaga keperawatan
Masing-masing
negara jenis tenaga keperawatannya berbeda-beda tergantung pada tingkat
perkembangan profesioanlisme keperawatan. adanya perbedaan jenis tenaga
keperawatan diharapkan dapat dikembangnkan berdasarkan pengertian bahwa
keperawatan adalah suatu profesi yang mandiri (kozier et al, 1997; chitty,
1997). Saat ini Indonesia terdapat tiga jenis tenaga yang melakukan praktik
keperawatan, yaitu lulusan sekolah perawat kesehatan (SPK), lulusan DIII
keperawatan, dan sarjana keperawatan/ners. Pada ruang MPKP terdapat beberapa
jenis tenaga yang memberikan asuhan keperawatan yaitu clinical care manajer
(CCM), perawat primer (PP), dan perawat asosiet (PA). Selain jenis tenaga
tersebut terdapat kepala ruangan yang bertanggung jawab terhadap manajemen
pelayanan keperawatan di ruang rawat tersebut. Peran dan fungsi masing-masing
tenaga sesuai dengan kemampuan dan terdapat tanggung jawab yang jenis dalam
pemberian sistem asuhan keperawatan (sitorus, 2006).
2) Jumlah
tenaga keperawatan
Pada
suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada
jumlah klien dan derajat ketergantungan klien terhadap perawatan. Menurut
Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) membagi klasifikasi klien
berdasarkan tingkat ketergantungan klien dengan menggunakan standar sebagai
berikut:
a) Kategori
I: self care/perawatan mandiri, memerlukan waktu 1-2 jam/hari
·
Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian
dilakukan sendiri
·
Makanan dan minuman dilakukan sendiri
·
Ambulansi dengan pengawasan
·
Observasi TTV setiap pergantian shift
·
Pengobatan minimal dengan status
psikologis stabil
·
Perawatan luka sederhana
b) Kategori
II: intermediate care/perawatan partial, memerlukan waktu 3-4 jam/hari
·
Kebersihan diri dibantu, makan minum
dibantu
·
Observasi TTV setiap 4 jam
·
Ambulasi dibantu
·
Pengobatan dengan injeksi
·
Klien dengan kateter urine, pemasukan
dan pengeluaran dicatat
·
Klien dengan infus dan klien dengan
pungsi pleura
c) Kategori
III: total care/intensif care, memerlukan waktu 5-6 jam/hari
·
Semua kebutuhan klien dibantu
·
Perubahan posisi setiap dua jam dengan
bantuan
·
Onservasi TTV setiap dua jam
Pada MPKP digunakan
metode modifikasi keperawatan primer, sehingga terdapat satu orang perawat
profesioal yang disebut perawat primer yang bertanggung jawab dan bertanggung
gugat atas asuhan keperawatan pada sekelompok pasien. Disamping itu, CCM yang
mengarahkan dan membimbing PP dalam memberikan asuhan keperawatan. CCM
diharapkan akan menjadi peran ners spesialis pada masa yang akan datang.
2.6.4 Tugas dan Tanggung Jawab Perawat dalam MPKP
Menurut Sitorus (2006) berikut tugas
dan tanggung jawab masing-masing kepala ruangan, CCM, PP dan PA dlam ruangan
MPKP.
1) Tugas
dan tanggung jawab kepala ruangan
a. Mengatur
diskusi dengan staf untuk ememcahkan masalah di ruangan
b. Mengadakan
diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah di ruangan
c. Menciptakan
dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan klien dan keuarga dan tim
kesehatan lain
d. Memeriksa
kelengkapan persediaan status keperawatan
e. Melaksanakan
pembinaan terhadap PP dan PA dalam hal implementasi MPKP
f. Bila
PP cuti tugas dan tanggung jawab PP dapat digantikan PA senior tetapi tetap
dengan pengawasan CCM
g. Memantau
dan mengevaluasi penampilan kinerja CCM, PP dan PA
h. Melakukan
pertemuan rutin dengan semua perawat setiap bulan
i.
Merencanakan dan melaksanakan evaluasi
mutu asuhan keperawatan bersama CCM
2) Tugas
dan tanggung jawab CCM
a. Membimbing
PP pada implementasi MPKP, kegiatan yang dilakukan adalah :
a) Bersama
dengan PP memvalidasi setiap diagnosis keperawatan yang sudah ditetapkan PP
b) Membarikan
masukan kepada PP dan memberikan pujian terkait dengan diagnosis keperawatan
dan renpra yang telah dibuat
c) Bila
pada dokumentasi belum ada renpra, maka bersama-sama PP menetapkan diagnosis
dengan menggunakan standar renpra yang sudah disepakati bersama
d) Membahas
tentang pembagian tugas PA bersama PP
e) Mengoservasi
dan memberikan masukan kepada PP terkait dengan bimbingan yang diberikan PP dan
PA
b. Memberikan
masukan pada diskusi kasus yang dilakukan PP dan PA
c. Mempresentasikan
isu-isu baru terkait asuhan keperawatan
d. Mengidentifikasi
fakta dan temuan yang memerlukan pembuktian
e. Mengidentifikasi
masalah penelitian
f. Menerapkan
hasil-hasil penelitian dalam asuhan keperawatan
g. Bekerjasama
dengan kepala ruang dalam mengevaluasi mutu asuhan keperawatan dan mengevaluasi
implementasi MPKP
h. Mengevaluasi
pendidikan kesehatan yang dilakukan PP
i.
Merencakan pertemuan ilmiah untuk
membahas hasil evaluasi asuhan keperawatan
3) Tugas
dan tanggung jawab PP
a. Melakukan
kontrak klien dan keluarga pada awal masuk ruangan
b. Melakukan
pengkajian terhadap pasien baru
c. Menetapkan
rencanakan asuhan keperawatan berdasarkan analisis renpra sesuai dengan hasil
pengkajian
d. Menjelaskan
renpra yang sudah ditetapkan kepada PA dibawah tanggung jawabnya.
e. Menetakan
PA yang bertanggung jawab pada setiap klien, setiap kali giliran jaga (shift). Pembagian berdasarkan jumlah
klien, tingkat ketergantungan kliendan tempet tidur berdekatan
f. Melakukan
bimbingan dan evaluasi PA dalam melakukan tindakan keperawatan
g. Memonitor
dokumentasi
h. Memantau
dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan PA
i.
Me;akukan tindakan keperawatan yang
tidak bisa dilakukan oleh PA
j.
Mengatur pelaksanaan kondul da
pemeriksaan laboratorium
k. Melakukan
kegiatan serah teria klien dibawah tanggung jawabnya bersama PA
l.
Mendampingi dokter visite klien dibawah
tanggung jawabnya. Bila tidak ada, visite didampingi oleh PA sesuai timnya
m. Melakukan
evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan perkembangan klien setiap hari
n. Melakukan
pertemuan dengan klien/keluarga minimal setiap 2 hari untuk membahas kondisi
keperawatan klien (tergantung kondisi klien)
o. Bila
PP cuti, tugas PP didelegasikan kepada PA yang telah ditunjuk dengan bimbingan
kepala ruangan / CCM
p. Memberikan
pendidikan kesehatan kepada klien / keluarga
q. Membuat
perencanaan pulang
r.
Bekerjasama dengan CCM dalam
mengidentifikasi isu yang memerlukan pembuktian sehingga tercipta evidence based practice (EBP)
4) Tugas
dan tanggung jawab PA
a. Membaca
renpra yang telah ditetapkan PP
b. Membina
hubungan terapeutik dengan klien / keluarga
c. Menerima
klien baru dan orientasi klien/keluarga jika PP tidak ditempat
d. Melakukan
tindakan keperawatan terhadap klien berdasarkan renpra
e. Melakukan
evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan mendokumentasikan pada
tempat yang tersedia
f. Mengikuti
visite dokter bila PP tidak tersedia
g. Memeriks
kerapian dan kelengkapan status keperawatan
h. Membuat
laporan pergantian dinas dan diparaf
i.
Mengkomunikasikam kepada PP/PJ dinas bila,
menemukan masalah yang perlu diselesaikan
j.
Menyiapkan klien untuk pemeriksaan
diagnostik, laboratorium, pengobatan, dan tindakan
k. Berperan
serta memberikan pendidikan kesehatan
l.
Melakukan inventarisasi fasilitas yang
terkait dengan timnya
m. Membantu
tim lain yang membutuhkan
n. Memberikan
resep dan menerima obat dari keluarga klien yang menjadi tanggung jawabnya dan
koordinasi dengan PP.
DAFTAR
RUJUKAN
Sirait, Y. 2012. Hubungan Penerapan MPKP Pemula dengan Tingkat Kepuasan Kerja Perawat
dan Dokter padsa Ruangan MPKP Pemula di RS PGI Cikini Jakarta, (online), (http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20300546-T30437%20-%20Hubungan%20penerapan.pdf,
diakses pada 4 Desember 2014).
Kusnanto.
2004. Pengantar Profesi dan Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar