APLIKASI KESADARAN
DALAM KEPERAWATAN
Diajukan
Untuk memenuhi salah satu penugasan mata kuliah Psikologi
Oleh
Isna Khusnul Khotimah
NIM. 1201300023
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN BLITAR
JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES MALANG
KOMA
PENDAHULUAN
Pasien dalam keadaan penurunan kesadaran sedang
atau berat dapat dikategorikan sebagai koma. Keadaan ini merupakan keadaan
emergensi atau gawat darurat bila terjadi akut. Banyak variasi penyebab baik
itu keadaan metabolik atau suatu proses intrakranial yang dapat mengakibatkan
pasien dalam keadaan stupor atau koma ini. Adapun manajemen pada pasien seperti
ini haruslah berfokus untuk menstabilkan keadaan pasien, menegakkan diagnosis,
dan menatalaksana pasien berdasarkan penyebab dari penyakit
PENYEBAB
KOMA
Secara umum koma dapat disebabkan menjadi tiga
kategori besar :
- Kelainan
struktur intrakranial (33 %)
Kebanyakan kasus ditegakkan
melalui pemeriksaan imajing otak ( computed
tomography [CT] or magnetic resonance
imaging [MRI] atau melalui lumbal punksi [LP].
- Kelainan
metabolik atau keracunan (66%)
Dikonfirmasi melalui
pemeriksaan darah, tapi tidak selalu positif.
- Kelainan
psikiatris (1%)
Koma disebabkan oleh penyakit mempengaruhi kedua
hemisfer otak atau batang otak. Lesi unilateral dari satu hemisfer tidak
menyebabkan stupor atau koma kecuali massa tersebut besar hingga menekan
hemisfer kontralateral atau batang otak. Koma yang disebabkan kelainan fokal di
batang otak terjadi karena terganggunya reticular
activating system. Kelainan metabolik dapat menyebabkan gangguan kesadaran
karena efek yang luas terhadap formasio retikularis dan korteks serebral
PATOFISIOLOGI
Gangguan kesadaran dapat dibagi dua :
1. Gangguan derajat (kuantitas, arousal, wakefulness) kesadaran.
2. Gangguan isi (kualitas, awareness, alertness) kesadaran.
Kesadaran ditentukan
oleh interaksi kontinu antara fungsi korteks serebri – termasuk ingatan,
berbahasa dan kepintaran (kualitas), dengan ascending reticular activating
system (ARAS) (kuantitas) yang terletak mulai dari pertengahan bagian atas
pons. ARAS menerima serabut-serabut saraf kolateral dari jaras-jaras sensoris
dan melalui thalamic relay nuclei dipancarkan secara difus ke kedua korteks
serebri. ARAS bertindak sebagai suatu off-on switch, untuk menjaga korteks
serebri tetap sadar (awake). Maka apapun yang dapat mengganggu interaksi ini,
apakah lesi supratentorial, subtentorial dan metabolik akan mengakibatkan
menurunnya kesadaran.
Karena ARAS terletak sebagian di atas tentorium serebeli dan sebagian lagi di bawahnya, maka ada tiga mekanisme patofisiologi timbulnya koma :
Karena ARAS terletak sebagian di atas tentorium serebeli dan sebagian lagi di bawahnya, maka ada tiga mekanisme patofisiologi timbulnya koma :
1. Koma supratentorial
a.
Lesi mengakibatkan kerusakan difus kedua hemisfer serebri, sedang batang
otak tetap normal. Ini disebabkan proses metabolik.
b.
Lesi struktural supratentorial (hemisfer).
Adanya massa yang mengambil tempat
di dalam kranium (hemisfer serebri) beserta edema sekitarnya misalnya tumor
otak, abses dan hematom mengakibatkan dorongan dan pergeseran struktur di
sekitarnya; terjadilah : 1. Hemiasi girus singuli, 2. Hemiasi transtentorial
sentral, 3. Herniasi unkus.
2. Koma infratentorial
2. Koma infratentorial
Ada dua macam lesi infratentorial yang menyebabkan koma.
1) Proses di dalam batang otak sendiri yang merusak ARAS atau/ serta merusak pembuluh darah yang mendarahinya dengan akibat iskemi, perdarahan dan nekrosis. Misalnya pada stroke, tumor, cedera kepala dan sebagainya.
2) Proses di luar batang otak yang menekan ARAS.
a. Langsung menekan pons.
b. Hemiasi ke atas dari serebelum dan mesensefalon melalui celah tentorium dan menekan tegmentum mesensefalon.
c. Herniasi ke bawah dari serebelum melalui foramen magnum dan menekan medula oblongata.Dapat disebabkan oleh tumor serebelum, perdarahan serebelum dan sebagainya.
3. Koma metabolik
Proses metabolik melibatkan batang otak dan kedua hemisfer serebri. Koma disebabkan kegagalan difus dari metabolisme sel saraf.
1) Ensefalopati metabolik primer
Penyakit degenerasi serebri yang menyebabkan terganggunya metabolisme sel saraf dan glia. Misalnya penyakit Alzheimer.
2) Ensefalopati metabolik sekunder
Koma terjadi bila penyakit ekstraserebral melibatkan metabolisme otak, yang mengakibatkan kekurangan nutrisi, gangguan keseimbangan elektrolit ataupun keracunan.
Pada koma metabolik ini biasanya ditandai gangguan sistem motorik simetris dan tetap utuhnya refleks pupil (kecuali pasien mempergunakan glutethimide atau atropin), juga utuhnya gerakan-gerakan ekstraokuler (kecuali pasien mempergunakan barbiturat).
PEMBAGIAN DERAJAT KESADARAN
Koma bukan penyakit melainkan hanya sebuah gejala, carmin dari proses kerusakan otak berat yang setiap saat berubah-ubah; oleh karena itu diperlukan pengamatan serial dari waktu ke waktu. Koma adalah suatu keadaan tidak ada respons dengan rangsangan nyeri kuat pun. Agar penilaian derajat kesadaran dapat lebih objektif, Jennett & Teasdale (1974) memasyarakatkan Skala Koma Glasgow (SKG). Pada SKG ini, dinilai kemampuan pasien untuk memperlihatkan tiga tes fungsi saraf, yaitu : Respons membuka mata, Respons motorik dan Respons verbal.
Tingkat kesadaran
didapat dari basil penjumlahan ketiga basil tes tersebut dapat dilihat pada
tabel di bawah.

Kecuali pada keadaan mata tertutup karena bengkak, endotracheal/ tracheostomi. Pada respons motorik yang, dipakai lengan yang baik/ tidak parese. Kesadaran terbaik 15 SKG dan terburuk 3 SKG. Koma disetarafkan dengan 8 SKG. Obtundation (somnolen) 13 SKG.
Dengan atau tanpa anamnesis, petunjuk penyebab koma dapat juga ditegakkan melalui
pemeriksaan fisik :
- Tanda
vital : hipertensi yang berat dapat disebabkan oleh lesi intrakranial
dengan peningkatan TIK atau ensefalopati karena hipertensi.
- Kulit :
tanda eksternal dari trauma, neddle
track, rash, cherry redness ( keracunan CO),
atau kuning
- Nafas :
alkohol, aseton, atau fetor
hepaticus dapat menjadi petunjuk
- Kepala :
tanda fraktur, hematoma, dan laserasi
- THT :
otorea atau rhinorea CSF, hemotimpanum terjadi karena robeknya duramater
pada fraktur tengkorak, tanda gigitan pada lidah menandakan serangan
kejang.
- Leher
(jangan manipulasi bila ada kecurigaan fraktur dari cervival spine) :
kekakuan disebabkan oleh meningitis atau perdarahan subarakhnoid.
- Pemeriksaan
neurologis : untuk menentukan dalamnya koma dan lokalisasi dari penyebab
koma.
Pemeriksaan Neurologis
- Status
generalis : terbukannya kelopak mata dan rahang yang lemas menandakan
dalamya koma. Deviasi dari kepala dan gaze menandakan suatu lesi hemisfer
ipsilateral yang luas. Myoklonus ( menandakan suatu proses metabolik),
twitching otot yang ritmik (indikasi dari kejang), tetani.
- Tingkat
kesadaran : dapat ditentukan melalui skala koma Glasgow untuk memudahkan
kita untuk mencatat perkembangan pasien. Untuk lebih mudahnya gangguan
kesadaran pada pasien dapat dideskripsikan berdasarkan letargi, stupor,
dan koma.
- Pernafasan
: pola pernafasan yang abnormal dapat membantu kita menentukan lokalisasi
dari koma. Diantaranya :
- Cheyne-Stokes : lesi bihemisfer atau ensefalopati
merabolik
- Central neurogenic hiperventilation : CNS limfoma atau kerusakan batang
otak karena herniasi tentorial
- Apneustic breathing : kerusakan pons
- Cluster breathing : kerusakan pons dan cerebelar
- Ataxic breathing : kerusakan pusat pernafasarn
medular (lesi di fosa posterior)
- Lapang
pandang : dapat diperiksa dengan melakukan refleks ancam terhadap mata
sehingga berkedip. Kehilangan refleks ancam pada salah satu sisi mata
menandakan terjadinya suatu hemianopia.
- Funduskopi
: edema papil terjadi pada peningkatan TIK setelah lebih dari 12 jam dan
jarang terjadi secara akut. Tidak adanya suatu edema papil menyingkirkan
adanya peningkatan TIK. Pulsasi spontan dari vena sulit diidentifikasikan,
tetapi bila kita temukan menandakan TIK yang normal. Perdarahan subhialoid
yang berbentuk seperti globul bercak darah pada permukaan retina biasanya
berhubungan dengan terjadinya suatu perdarahan subarakhnoid.
- Pupil :
pastikan bentuk, ukuran, dan reaksi pupil terhadap rangsang cahaya.
- Simetris
dan reaktif terhadap rangsang cahaya menandakan midbrain dalam keadaan intak. Pupil yang reaktif tanpa
disertai respon dari kornea dan okulosefalik menandakan suatu keadaan
koma yang disebabkan kelainan metabolik.
- Midposition (2-5 mm) terfiksir atau pupil ireguler
menandakan suatu lesi fokal di midbrain.
- Pupil pinpoint
yang reaktif menandakan kerusakan pada tingkat pons. Intoksikasi dari
opiat dan kholinergik (pilokarpin) juga dapat menyebabkan pupil seperti
ini.
- Pupil
anisokor dan terfiksir terjadi pada kompresi terhadap CN III pada
herniasi unkus. Ptosis dan exodeviasi juga terlihat pada kejadian
tersebut.
- Pupil
terfiksir dan dilatasi menandakan suatu herniasi sentral, iskemia
hipoksia global, keracunan barbiturat, scopolamine, atau
gluthethimide.
- Pergerakan
bola mata (gaze):
- Perhatikan
posisi saat istirahat :
i.
Deviasi
gaze menjauhi sisi yang hemiparesis menandakan suatu lesi hemisper
kontralateral dari sisi yang hemiparesis
ii.
Deviasi
gaze ke arah sisi yang hemiparesis menunjukkan :
1. lesi di pons kontralateral hemiparesis
2. lesi di thalamus kontralateral dari hemiparesis
3. aktivitas kejang pada hemisfer
kontralateral dari hemiparesis
iii.
Deviasi
mata kearah bawah menandakan suatu lesi di tectum dari midbrain, disertai dengan gangguan reaktifitas pupil dan nistagmus
refrakter dikenal sebagai sindroma parinoud
iv.
Slow roving eye movement yang dapat konjugasi atau diskonjugae tidak menunjukkan lokalisasi lesi
yang berarti, berhubungan dengan disfungsi hemisfer bilateral dan aktifnya
refleks okulosefalik
v.
Occular bobbing, yaitu
terdapat reaksi cepat dari pergerakan bola mata ke arah bawah yang kembali ke
posisi semula dengan lambat menunjukkan kerusakan bilateral dari pusat gaze
horisontal pada pons.
vi.
Saccadic eye movement tidak terlihat pada pasien koma dan menunjukkan suatu psikogenik
unresponsive.
- Refleks
okulosefalik (doll’s eye),
respons yang intak terjadi pergerakan bola mata berlawanan dari arah
pemutaran kepala. Bila tidak terjadi refleks ini menunjukkan disfungsi
dari bilateral hemisfer serebri dan gangguan integritas dari struktur
batang otak, yang sering terlihat pada koma metabolik.
- Refleks
okulovestibular (kalori dingin), respons yang normal terdiri dari deviasi
tonik ke arah rangsangan air dingin yang dimasukkan ke lubang telinga dan
terjadi nistagmus cepat ke arah kontralateral.
i.
Fase
tonik tanpa disertai respons fase cepat dari nistagmus menandakan koma
disebabkan disfungsi bihemisfer
ii.
Paresis
konjugae dari gaze menandakan lesi unilateral hemisfer atau pons
iii.
Kelemahan
mata asimetris menandakan lesi pada batang otak
iv.
Refleks
okulovestibular negatif menandakan koma yang dalam yang mendepresi fungsi
batang otak.
- Refleks
kornea : menandakan intaknya batang otak setinggi CN 5( aferen) dan CN 7
(eferen)
- Refleks
muntah : dapat dilakukan dengan memanipulasi endotrakheal tube.
- Respons
motorik :merupakan indikator terbaik dalam menentukan dalam dan beratnya
keadaan koma. Yang diperhatikan yaitu :
- Pergerakan
spontan : lihat adanya suatu asimetri
- Tonus
otot : peningkatan tonus otot bilateral pada ekstremitas bawah merupakan
tanda penting terjadinya suatu herniasi serebri.
- Induksi
pergerakan melalui :
i.
Perintah
verbal : normal
ii.
Rangsang
nyeri : dengan menggosokkan kepalan tangan pemeriksa pada sternum dan penekanan
pada nailbed dengan menggunakan handel dari hammer.
- Respon
sensoris : respons asimetris dari stimulasi menandakan suatu lateralisasi
defisit sensoris.
- Refleks
:
- Refleks
tendon dalam : bila asimetris menunjukkan lateralisasi defisit motoris
yang disebabkan lesi struktural
- Refleks
plantar : respon bilateral Babinski’s menunjukkan coma akibat struktural
atau metabolik.
Pemeriksaan Penunjang
Karena
pentingnya penentuan diagnosis yang cepat pada etiologi pasien dengan koma
karena dapat mengancam nyawa, maka pemeriksaan penunjang harus segera dilakukan
dalam membantu penegakkan diagnosis, yaitu antara lain :
- CT atau
MRI scan Kepala : pemberian kontras diberikan apabila kita curigai
terdapat tumor atau abses. Dan mintakan print out dari bone
window pada kejadian trauma kepala
- Punksi
Lumbal : dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,
encephalitis, atau perdarahan subarachnoid bila diagnosis tidak dapat
ditegakkan melalui CT atau MRI kepala.
- EEG :
bisa saja diperlukan pada kasus serangan epileptik tanpa status kejang,
keadaan post ictal, koma metabolik bila diagnosis tidak ditegakkan melalui
pemeriksaan CT dan LP.
Keadaa pseudokoma harus kita curigai bila semua
pemeriksaan diagnostik telah kita lakukan dan masih tidak dapat menegakkan
diagnosis penyebab dari koma tersebut. Diantaranya:
- Koma
psikogenik
- Locked in syndrome : kerusakan pons bilateral
- Mutism
akinetik : kerusakan pada frontal dan thalamus
Manajemen Pasien dengan Koma
- Penanganan
emergensi dekompresi pada lesi desak ruang (space occupying lesions / SOL ) dapat menyelamatkan nyawa
pasien.
- Bila
terjadi suatu peningkatan TIK, berikut adalah penanganan pertamanya :
- Elevasi
kepala
- Intubasi
dan hiperventilasi
- Sedasi
jika terjadi agitasi yang berat (
midazolam 1 – 2 mg iv )
- Diuresis
osmotik dengan manitol 20% 1 g/kg BB iv
- Dexametason
10 mg iv tiap 6 jam pada kasus edema serebri oleh tumor atau abses
setelah terapi ini monitor ICP harus dipasang.
- Kasus
encephalitis yang dicurigai oleh infeksi virus herpes dapat diberikan
acyclovir 10 mg/kg iv tiap 8 jam
- Kasus
meningitis lakukan terapi secara empiris. Lindungi pasien dengan
ceftriaxon 2x1 g iv dan ampicillin 4x1 g iv sambil menunggu hasil kultur.
Terapi Umum
- Proteksi
jalan nafas : adekuat oksigenasi dan ventilasi
- Hidrasi
intravena : gunakan normal saline pada pasien dengan edema serebri atau
peningkatan TIK
- Nutrisi
: lakukan pemberian asupan nutrisi via enteral dengan nasoduodenal tube,
hindari penggunaan naso gastrik tube
karena adanya ancaman aspirasi dan refluks
- Kulit :
hindari dekubitus dengan miring kanan dan kiri tiap 1 hingga 2 jam, dan
gunakan matras yang dapat dikembangkan dengan angin dan pelindung tumit
- Mata :
hindari abrasi kornea dengan penggunaan lubrikan atau tutup mata dengan
plester
- Perawatan
bowel : hindari konstipasi dengan pelunak feses (docusate sodium 100 mg
3x1 ) dan pemberian ranitidin 50 mg iv tiap 8 jam untuk menghindari stress
ulcer akibat pemberian steroid dan intubasi
- Perawatan
bladder : indwelling cateter
urin dan intermiten kateter tiap 6 jam
- Mobilitas
joint : latihan pasif ROM untuk menghindari kontraktur
- Profilaksis
deep vein trombosis (DVT) :
pemberian 5000 iu sc tiap 12 jam, penggunaan stoking kompresi pneumatik,
atau kedua-duanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar