Senin, 19 Januari 2015

Perawat dan Masyarakat

 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi professional keperawatan. Fungsi professional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Perkembangan ilmu kesehatan kesehatan sudah mulai berkembang dengan pesat sehingga masyarakat mulai menyoroti kinerja tenaga kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan, termasuk perawat. Sehingga perawat dituntut untuk profesional dengan menampilkan kinerja secara hati-hati, teliti, dan kegiatan perawat dilaporkan secara jujur dengan begitu klien akan merasa yakin bahwa perawat bertanggung jawab dan memiliki kemampuan, pengetahuan dan keahlian yang relevan dengan disiplin ilmunya dengan begitu akan terlihat citra perawat secara positif.
Namun, persepsi perawat di masyarakat saat ini masih rendah karena menurut masyarakat perawat identik dengan sombong, judes, tidak ramah. Hal ini didukung dengan penelitian Peluw (2007) yang menggambarkan adanya persepsi yang negatif seperti melakukan tindakan yang kurang tepat, kurang terampil, kurang komunikasi dengan pasien, kurang cepat menanggapi keluhan pasien. Bahkan tayangan-tayangan yang menggambarkan hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai dengan perawat, entah itu dari keprofesianya, maupun atribut-atribut yang dikenakan oleh perawat.
Dengan fakta dan masalah yang sudah berkembang dimasyarakat perlu adanya revolusi langkah strategis dari seluruh elemen keperawatan dari kalangan pendidikan (dosen dan mahasiswa), perawat praktisi, dan peran serta tokoh masyarakat untuk menumbuhkan citra perawat yang baik.

1.2   Rumusan msalah
  1. Bagaimana perilaku perawat menurut presepsi masyarakat ?
  2. Bagaimana citra perawat yg sudah berkembang dimasyarakat ?
  3. Bagaimana upaya perawat dalam menanggapi presepsi masyarakat ?
  4. Bagaimana membangun citra perawat yang positif dimata masyarakat ?
1.3 Tujuan
  1. Untuk mengetahui perilaku perawat menurut presepsi masyarakat.
  2. Untuk mengetahui citra perawat yg sudah berkembang dimasyarakat.
  3. Untuk mengetahui upaya perawat dalam menanggapi persepsi masyarakat.
  4. Untuk mengetahui cara membangun citra perawat yang positif dimata masyarakat.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Peran Perawat
Perawat (nurse) berasal dari bahasa latin yaitu kata nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Menurut Kusnanto (2003), perawat adalah seseorang (seorang professional) yang mempunyai kemampuan, tanggung jawab dan kewenangan melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan pada berbagai jenjang pelayanan keperawatan. Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi professional keperawatan. Fungsi professional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien, reaksi perawat dan tindakan perawat yang dirancang untuk kebaikan pasien (Suwignyo, 2007). Profesi perawat di Indonesia memiliki proporsi relatif besar yaitu 40% dari seluruh jumlah tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. (Alimul Aziz,2004). Sedangkan dalam pelaksanaan tugas di lapangan, perawat bekerja 24 jam dengan sistim sift tiap harinya.

Semakin berkembangnya jaman dan sarana media masa yang ada, semakin meningkatkan pengetahuan serta memacu masyarakat untuk lebih kritis dalam menanggapi kemajuan sarana kesehatan yang tersedia, termasuk fasilitas dan kinerja yang terbentuk dalam pemberian pelayanan kesehatan, dan perawat termasuk didalamnya. Oleh karena itu, perawat harus bertindak profesional dalam menjalani tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan agar masyarakat yakin dan percaya bahwa perawat memiliki kinerja baik dengan pedoman ilmu yang dimiliki, dengan demikian akan tercipta citra perawat yang baik.Sedangkan citra perawat sendiri masih jauh dari harapan masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih terdoktrin dengan citra perawat yang terkesan angkuh, tidak ramah, serta dinilai tidak memahami pasien karena dianggap sebagai pebantu dokter yang hanya bekerja jika mendapat perintah dari dokter saja.Sesungguhnya bukanlah kesalahan penilaian masyarakat dalam hal ini, citra yang bisa di katakana negative ini terlanjur sudah melekat dimasyarakat yang mungkin disebabkan oleh kesalahan maupun ketidak lengkapan informasi yang di berikan maupun di tangkan dikalangan masyarakat itu sendiri melalui media massa. Menanggapi hal tersebut, sebagai perawat yang professional wajib memberikan butki hasil dari profesionalisme yang selama ini di pandang negative oleh masyarakat, dengan memperbaharui system yang telah ada dari berbagai aspek (pendidikan, praktisi, dan peran serta masyarakat) agar tercipta citra positif perawat masa depan.


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perilaku Perawat Menurut Presepsi Masyarakat
Selama ini profesi perawat memiliki persepsi berbeda dikalangan masyarakat. Banyak masyarakat sekarang ini menganggap bahwa perawat hanyalah sekedar pembantu dokter,yang tanpa dokter perawat tidak dapat melakukan tugasnya dengan sempurna, anggapan ini telah menjadi penilaian utama terhadap profesi seorang perawat. Akibatnya banyak masyarakat yang menganggap bahwa profesi seorang perawat itu rendah.
Khususnya di Indonesia pandangan terhadap profesi perawat masih belum mendapat anggapan positif , anggapan masyarakat masih keliru tentang profesi seorang perawat. Di mata sebagian masyarakat perawat masih sering dinilai tidak memiliki ilmu dan tidak mandiri. Mungkin karena tingkat pendidikan seorang perawat yang kebanyakan hanya sampai akademi atau dengan kata lain hanya sampai D3 saja. Dengan begitu ilmu mereka kurang dan derajat mereka dengan rekan kerja pun lebih rendah. Maka dari itu profesi seorang perawat pun disepelekan. Anggapan ini masih belum bisa di hapus dari benak masyarakat ketika melihat pekerjaan seorang perawat di rumah sakit.
Selain itu penilaian semacam ini dapat disebabkan oleh ketidak tahuan masyarakat akan tugas seorang perawat. Tugas perawat yang langsung bersentuhan dengan pasien memengaruhi gambaran perawat secara keseluruhan. Segala kebutuhan pasien di rumah sakit dengan tingkat ketergantungan yang tinggi sangat membutuhkan bantuan perawat . Masyarakat sering melihat profesi perawat dalam kehidupan pasien sehari - hari, seperti ketika pasien mau makan, minum, mandi, buang air besar maupun kecil. Melihat tugas keseharian perawat seperti inilah yang membentuk pandangan masyarakat akan tugas seorang perawat tidak lebih dari seorang pembantu. Jika dikaji lebih dalam sebenarnya tanggung jawab seorang perawat itu sangat besar, di balik tugasnya yang harus memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat seorang perawat juga berperan dalam kesembuhan pasien. Bila perawat yang menangani pasien tidak profesianal maka pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien pun akan terganggu. Obat yang bagus dan dokter yang hebat pun akan tidak berpengaruh jika perawatnya salah. Jadi peran perawat sangat besar dalam proses penyembuhan seorang pasien. Tanpa kita sadari, perawat sebenernya mengemban tugas yang berat. Mereka harus bisa menjadi seperti seorang dokter, apoteker, psikiater, psikolog bahkan teman yang dapat menjadi tempat curhat bagi pasien. Hal itu karena perawat memang harus memeriksa atau mendiagnosa, menyarankan obat, menjadi tempat curhat, memberi nasehat pada pasien, menemani pasien, bahkan hingga menjadi tempat pelampiasan pasien yang marah. Seorang perawat sering menjadi tempat pelampiasan kemarahyan pasien, hal ini bisa terjadi ketika seorang pasien mengalami gangguan kejiwaan atau ketika pasien didiagnosa oleh seorang dokter mengidap penyakit tertentu, tentu pasien shock ketika mendengar berita tersebut. Dalam situasi seperti ini peran perawat sangat dibutuhkan terlebih-lebih untuk penenangan jiwa pasien.
Selain itu peran perawat juga dapat dilihat ketika seorang pasien yang sedang putus asa. Walaupun dokter mengatakan dia baik-baik saja, tapi pasien tersebut tetap merasa bahwa dia sakit. Hal yang seperti ini dapat dirawat agar perasaan itu tidak ada lagi. Selain tugas seorang psikiater dan psikolog, di sini perawat juga dapat berperan untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien tersebut agar menjadi sehat seutuhnya atau dengan kata lain sehat jasmani dan rohani. Bahkan, orang yang sudah divonis mati pun harus tetap dilayani oleh perawat untuk memenuhi kebutuhannya agar tetap semangat dan bisa meninggal dengan keadaan damai. Karena di sini, tugas dokter hanya memeriksa biologisnya saja, atau seorang psikolog hanya dari psikologinya saja. Tapi bagi perawat, belum tentu orang sehat dibilang sehat bila orang tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan prinsip perawat yang harus mendiagnosa pasien dilihat dari biologisnya, sosialnya, psikologisnya, dan spiritualnya.
3.2 Citra Perawat yang Sudah Berkembang di Masyarakat
Image atau citra, reputasi dan kepedulian perawat merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting terhadap kepuasan klien dimana klien memandang rumah sakit mana yang akan dibutuhkan untuk proses penyembuhan. Klien dalam menginterprestasikan perawat berawal dari cara pandang melalui panca indera dari informasi-informasi yang didapatkan dan pengalaman baik bagi orang lain maupun diri sendiri sehingga menghasilkan anggapan yang positif terhadap perawat, meskipun dengan harga yang tinggi, klien akan tetap setia menggunakan jasa perawat dengan harapan-harapan yang diinginkan klien.Masyarakat ternyata sangat mengharapkan sosok perawat yang profesional dan memiliki citra yang baik dalam bersikap dalam arti lembut, sabar,penyayang, ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan keperawatan terhadap masyarakat.
 Namun, dalam kehidupan sehari-hari  kita masih sering menemukan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan profesinya di rumah sakit. Mulai dari perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, pemarah, kurang komunikasi dengan klien, serta kurang cepat menanggapi keluhan dari klien sehingga saat ini perawat masih dinilai belum dapat mencerminkan tenaga perawat yang profesional dan citra perawat belum sesuai dengan harapan masyarakat.
Hal ini yang menjadikan citra perawat di Indonesia masih kurang baik. Maka dari itu diperlukan langkah kongkrit untuk merubah citra perawat di indonesia. Bukan hanya satu dua orang saja yang harus membela ini. Namun seluruh elemen keperawatan harus juga mendukung langkah perubahan citra perawat di masyarakat.
 3.3 Upaya Perawat dalam Menanggapi Presepsi Masyarakat
  1. Hindari Penghinaan: Janganlah pernah melakukan hal-hal yang bersifat merendahkan, ejekan, dan penghinaan dalam bentuk apapun terhadap orang lain, baik tentang kepribadiannya, postur tubuhnya, kemampuannya dan kaadaan sosialnya. Hal ini akan menimbulkan perasaan sakit hati dan dendam terhadap seseorang.
  2. Hindari Ikut Campur Urusan Pribadi: Hindari ikut campur urusan pribadi orang lain yang tidak ada manfaatnya bagi kita, bila terlibat. Karena bila kita melakukannya, yang muncul hanyalah ketidaksuka-sukaan di salah satu pihak.
  3. Hindari Memotong Pembicaraan: Janganlah suka memotong pembicaraan orang lain, jika hal ini dilakukan dalam bergaul akan berkembang menjadi ketidaksukaan bahkan kebencian dapat bersarang ditubuh seseorang. Karena betapa tidak enaknya bila kita sedang bicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal oleh orang lain.
  4. Hindari Membanding-bandingkan: Sedikitpun jangan sekali-kali secara sengaja membanding-bandingkan orang lain, baik itu berupa jasa, kebaikan penampilan, perbuatan, harta dan sebagainya. Jika orang tersebut mendengarkan menyebabkan dia merasa dirinya tidak berharga, merasa rendah diri atau sampai terhina.
  5. Jangan membela musuhnya dan mencaci kawannya: Setiap orang mempunyai kawan yang disukai maupun yang dibenci. Bila membela musuhnya, maka kita akan bergabung dengan musuhnya. Sedangkan apabila kita membenci kawannya maka kita akan dianggap sedang mencaci dirinya. Karena orang itupun akan merasa terhina bila temannya dihina. Sebaiknya bersikaplah netral untuk kebaikan semua pihak. Sementara itu, dalam bergaul seharusnya kita prioritaskan adalah memperbanyak kawan bukan lawan.
  6. Hindari Merusak Kebahagiaan: Bila seseorang tengah suka cita, gembira dan bahagia jangan sekali-kali kita melakukan tindakan yang merusak kebahagiaan atau kegembiraannya saat itu juga.
  7. Jangan Mengungkit masa Lalunya: Janganlah pernah mengungkit kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutup-tutupi. Siapa tahu kelemahan di masa lalu sudah terhapus dengan ia bertaubat. Belajarlah untuk selalu bersama-sama memulai lembaran baru yang lebih putih, bersih dan bersemangat untuk mengisi lembaran tersebut dengan kebaikan demi kebaikan.
  8.  Hati-hati dengan marah: Kemarahan yang tak terkendali dapat menghasilkan kata dan perilaku yang keji, yang akan melukai perasaan orang lain. Hal ini tentunya dapat merusak atau menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun.
  9. Hindari Menertawakan Orang lain: Sebagian besar sikap menertawakan muncul karena menyaksikan kekurangan orang lain. Sikap, penampilan dan wajah terkadang membuat sebagian orang tertawa karena terlihat lucu dimata mereka. Ingatlah tertawa yang tidak pada tempatnya akan mengundang rasa sakit hati dan merasa terhina.
3.4 Membangun Citra Perawat yang Positif Dimata Masyarakat
Sudah banyak hal dilakukan demi membangun citra perawat dimata masyarakat.
1.      Salah satunya adalah kesepakatan dari PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) yang melakukan uji kompetensi keperawatan yang diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pada pasien dalam melakukan tugasnya.
2.      Kegiatan seminar yang diselanggarakan institusi-institusi tertentu dengan bekerja sama dengan organisasi yang ada.
3.      Hingga pengadaan kegiatan rutin dalam bidang keperawatan demi meninggkatkan kualitas kerja perawat di lapangan kerja.Namun, tidak dipungkiri penyebaram informasi melalui media massa sanggat dibutuhkan demi peningkatan citra perawat sehingga bukan hal yang tidak mungkin akan merubah citra perawat yang tadinya buruk menjadi citra yang baik dimata masyarakat.
4.      Menggunaan media massa dalam penyebaran informasi tentang peran perawat serta  keramahan perawat dalam menjalankan tugasnya
5.      Keoptimalan dan kerja sama antara perawat, instansi terkait dan masyarakat akan sangat membantu dalam peninggakat citra perawat tersebut, oleh sebab itu marilah kita menjadikan isu ini untuk memacu semangat kita membangun citra perawat dimana ini sebagai profesi yang kita emban agar menjadi citra yang baik dimata masyarakat.
6.      Dalam penggunaannya, media masa dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk mempromosikan kinerja perawat professional sebagai pembuktian kesalahan citra yang terlanjur tertanam dalam masyarakat. Jika melirik dari segi media masa elektronik, tenaga kesehatan yang marak muncul saat ini yaitu dokter dengan promosi rajin menyikat gigi malam hari, atau bidan dengan program BKKBN yang sedang marak di tayangkan di media masa. Lalu bagai mana dengan perawat?. Dengan wacana seperti ini bukan tidak mungkin perawat hadir dengan program senyum, sapa, salam, yang mampu memberikan informasi maksimal dalam pelayanan masyarakat. Bahkan bisa jadi perawat hadir dengan inofasi baru seperti melakukan penyuluhan pencegahan HIV-AIDS dengan secara berkala, maupun mengadakan tukar pendapat dengan beberapa perawat di lain daerah maupun di lain Negara. Hal-hal yang demikian yang secara tidak langsung memperbaiki citra perawat di mata masyarakat.Pengembangan-pengembangan informasi yang seharusnya dapat perawat tunjukkan dengan cara penyatukan berbagai opini perawat dari berbagai tempat, setidaknya akan lebih membantu memperkaya ide demi memajukan citra perawat itu sendiri.


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Perawat adalah petugas medis yang memang paling banyak jasanya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Tanpa panggilan jiwa, seorang perawat akan sulit melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal inilah yang menjadikan pandangan tentang perawat kurang bagus di masyarakat. Jadi, berpikirlah dua kali bila ada yang  berpikiran jelek terhadap perawat, karena dibalik semua itu, mereka mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam pelayanan kesehatan.
Tetapi Peran dan Fungsi Perawat bukan hanya pada saat melakukan pekerjaannya di Institusi Kesehatan saja, melainkan Perawat juga harus bisa hidup di tengah tengah masyarakat, maka dari itu, untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang baik, menciptakan kehidupan bertetangga yang baik, maka seorang perawat harus bisa menyesuaikan diri untuk hidup di masyarakat.

4.2 Saran
Seorang perawat dan mahasiswa keperawatan di dalam berkehidupan di masyarakat haruslah memperhatikan norma dan etika yang berlaku di masyarakat, karena etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari dan membantu kita mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita.


DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alimul Hidayat (2007), Pengantar Konsep Dasar Keperawatan Edisi II, Salemba Medika, Jakarta
Rideout, Elizabet.2001.Transforming Nursing Education Through Problem-Based Learning. Oleh Novieastari, Enie, dkk.Pendidikan Keperawatan Berdasarkan Problem Based Learning.2001. Jakarta:EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar