BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawat adalah suatu profesi yang
mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi professional
keperawatan. Fungsi professional yaitu membantu mengenali dan menemukan
kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat
untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Perkembangan ilmu
kesehatan kesehatan sudah mulai berkembang
dengan pesat sehingga masyarakat mulai menyoroti kinerja tenaga kesehatan dalam
pemberian pelayanan kesehatan, termasuk perawat. Sehingga perawat dituntut
untuk profesional dengan menampilkan kinerja secara hati-hati, teliti, dan
kegiatan perawat dilaporkan secara jujur dengan begitu klien akan merasa yakin
bahwa perawat bertanggung jawab dan memiliki kemampuan, pengetahuan dan
keahlian yang relevan dengan disiplin ilmunya dengan begitu akan terlihat citra
perawat secara positif.
Namun,
persepsi perawat di masyarakat saat ini masih rendah karena menurut masyarakat
perawat identik dengan sombong, judes, tidak ramah. Hal ini didukung dengan
penelitian Peluw (2007) yang menggambarkan adanya persepsi yang negatif seperti
melakukan tindakan yang kurang tepat, kurang terampil, kurang komunikasi dengan
pasien, kurang cepat menanggapi keluhan pasien. Bahkan tayangan-tayangan yang
menggambarkan hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai dengan perawat, entah
itu dari keprofesianya, maupun atribut-atribut yang dikenakan oleh perawat.
Dengan
fakta dan masalah yang sudah berkembang dimasyarakat perlu adanya revolusi langkah
strategis dari seluruh elemen keperawatan dari kalangan pendidikan (dosen dan
mahasiswa), perawat praktisi, dan peran serta tokoh masyarakat untuk
menumbuhkan citra perawat yang baik.
1.2 Rumusan msalah
- Bagaimana
perilaku perawat menurut presepsi masyarakat ?
- Bagaimana
citra perawat yg sudah berkembang dimasyarakat ?
- Bagaimana
upaya perawat dalam menanggapi presepsi masyarakat ?
- Bagaimana membangun citra perawat yang positif dimata masyarakat ?
1.3 Tujuan
- Untuk
mengetahui perilaku perawat menurut presepsi masyarakat.
- Untuk
mengetahui citra perawat yg sudah berkembang dimasyarakat.
- Untuk
mengetahui upaya perawat dalam menanggapi persepsi masyarakat.
- Untuk mengetahui cara membangun citra perawat yang positif dimata masyarakat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Peran Perawat
Perawat (nurse) berasal dari bahasa latin yaitu kata
nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Menurut Kusnanto (2003), perawat
adalah seseorang (seorang professional) yang mempunyai kemampuan, tanggung
jawab dan kewenangan melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan pada berbagai
jenjang pelayanan keperawatan. Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai
fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi professional keperawatan.
Fungsi professional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien
yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui
kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin
proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien, reaksi
perawat dan tindakan perawat yang dirancang untuk kebaikan pasien (Suwignyo,
2007). Profesi perawat di Indonesia memiliki proporsi relatif besar yaitu 40%
dari seluruh jumlah tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. (Alimul Aziz,2004).
Sedangkan dalam pelaksanaan tugas di lapangan, perawat bekerja 24 jam dengan
sistim sift tiap harinya.
Semakin berkembangnya jaman dan sarana media masa yang
ada, semakin meningkatkan pengetahuan serta memacu masyarakat untuk lebih
kritis dalam menanggapi kemajuan sarana kesehatan yang tersedia, termasuk
fasilitas dan kinerja yang terbentuk dalam pemberian pelayanan kesehatan, dan
perawat termasuk didalamnya. Oleh karena itu, perawat harus bertindak
profesional dalam menjalani tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan agar
masyarakat yakin dan percaya bahwa perawat memiliki kinerja baik dengan pedoman
ilmu yang dimiliki, dengan demikian akan tercipta citra perawat yang
baik.Sedangkan citra perawat sendiri masih jauh dari harapan masyarakat.
Sebagian besar masyarakat masih terdoktrin dengan citra perawat yang terkesan
angkuh, tidak ramah, serta dinilai tidak memahami pasien karena dianggap
sebagai pebantu dokter yang hanya bekerja jika mendapat perintah dari dokter
saja.Sesungguhnya bukanlah kesalahan penilaian masyarakat dalam hal ini, citra
yang bisa di katakana negative ini terlanjur sudah melekat dimasyarakat yang
mungkin disebabkan oleh kesalahan maupun ketidak lengkapan informasi yang di
berikan maupun di tangkan dikalangan masyarakat itu sendiri melalui media
massa. Menanggapi hal tersebut, sebagai perawat yang professional wajib
memberikan butki hasil dari profesionalisme yang selama ini di pandang negative
oleh masyarakat, dengan memperbaharui system yang telah ada dari berbagai aspek
(pendidikan, praktisi, dan peran serta masyarakat) agar tercipta citra positif
perawat masa depan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perilaku Perawat Menurut Presepsi Masyarakat
Selama ini profesi perawat
memiliki persepsi berbeda dikalangan masyarakat. Banyak masyarakat sekarang ini
menganggap bahwa perawat hanyalah sekedar pembantu dokter,yang tanpa dokter
perawat tidak dapat melakukan tugasnya dengan sempurna, anggapan ini telah
menjadi penilaian utama terhadap profesi seorang perawat. Akibatnya banyak
masyarakat yang menganggap bahwa profesi seorang perawat itu rendah.
Khususnya di Indonesia
pandangan terhadap profesi perawat masih belum mendapat anggapan positif ,
anggapan masyarakat masih keliru tentang profesi seorang perawat. Di mata
sebagian masyarakat perawat masih sering dinilai tidak memiliki ilmu dan tidak
mandiri. Mungkin karena tingkat pendidikan seorang perawat yang kebanyakan
hanya sampai akademi atau dengan kata lain hanya sampai D3 saja. Dengan begitu
ilmu mereka kurang dan derajat mereka dengan rekan kerja pun lebih rendah. Maka
dari itu profesi seorang perawat pun disepelekan. Anggapan ini masih belum bisa
di hapus dari benak masyarakat ketika melihat pekerjaan seorang perawat di
rumah sakit.
Selain itu penilaian
semacam ini dapat disebabkan oleh ketidak tahuan masyarakat akan tugas seorang
perawat. Tugas perawat yang langsung bersentuhan dengan pasien memengaruhi
gambaran perawat secara keseluruhan. Segala kebutuhan pasien di rumah sakit
dengan tingkat ketergantungan yang tinggi sangat membutuhkan bantuan perawat .
Masyarakat sering melihat profesi perawat dalam kehidupan pasien sehari - hari,
seperti ketika pasien mau makan, minum, mandi, buang air besar maupun kecil.
Melihat tugas keseharian perawat seperti inilah yang membentuk pandangan
masyarakat akan tugas seorang perawat tidak lebih dari seorang pembantu. Jika
dikaji lebih dalam sebenarnya tanggung jawab seorang perawat itu sangat besar,
di balik tugasnya yang harus memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat seorang
perawat juga berperan dalam kesembuhan pasien. Bila perawat yang menangani
pasien tidak profesianal maka pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien pun akan
terganggu. Obat yang bagus dan dokter yang hebat pun akan tidak berpengaruh
jika perawatnya salah. Jadi peran perawat sangat besar dalam proses penyembuhan
seorang pasien. Tanpa kita sadari, perawat sebenernya mengemban tugas yang
berat. Mereka harus bisa menjadi seperti seorang dokter, apoteker, psikiater,
psikolog bahkan teman yang dapat menjadi tempat curhat bagi pasien. Hal itu
karena perawat memang harus memeriksa atau mendiagnosa, menyarankan obat,
menjadi tempat curhat, memberi nasehat pada pasien, menemani pasien, bahkan
hingga menjadi tempat pelampiasan pasien yang marah. Seorang perawat sering
menjadi tempat pelampiasan kemarahyan pasien, hal ini bisa terjadi ketika
seorang pasien mengalami gangguan kejiwaan atau ketika pasien didiagnosa oleh
seorang dokter mengidap penyakit tertentu, tentu pasien shock ketika mendengar
berita tersebut. Dalam situasi seperti ini peran perawat sangat dibutuhkan terlebih-lebih
untuk penenangan jiwa pasien.
Selain itu peran perawat
juga dapat dilihat ketika seorang pasien yang sedang putus asa. Walaupun dokter
mengatakan dia baik-baik saja, tapi pasien tersebut tetap merasa bahwa dia
sakit. Hal yang seperti ini dapat dirawat agar perasaan itu tidak ada lagi.
Selain tugas seorang psikiater dan psikolog, di sini perawat juga dapat
berperan untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien tersebut agar menjadi sehat
seutuhnya atau dengan kata lain sehat jasmani dan rohani. Bahkan, orang yang
sudah divonis mati pun harus tetap dilayani oleh perawat untuk memenuhi
kebutuhannya agar tetap semangat dan bisa meninggal dengan keadaan damai.
Karena di sini, tugas dokter hanya memeriksa biologisnya saja, atau seorang
psikolog hanya dari psikologinya saja. Tapi bagi perawat, belum tentu orang
sehat dibilang sehat bila orang tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan
kesehatannya. Hal ini sesuai dengan prinsip perawat yang harus mendiagnosa
pasien dilihat dari biologisnya, sosialnya, psikologisnya, dan spiritualnya.
3.2 Citra Perawat yang Sudah Berkembang di Masyarakat
Image atau
citra, reputasi dan kepedulian perawat merupakan salah satu faktor yang
memegang peranan penting terhadap kepuasan klien dimana klien memandang rumah
sakit mana yang akan dibutuhkan untuk proses penyembuhan. Klien dalam
menginterprestasikan perawat berawal dari cara pandang melalui panca indera
dari informasi-informasi yang didapatkan dan pengalaman baik bagi orang lain
maupun diri sendiri sehingga menghasilkan anggapan yang positif terhadap
perawat, meskipun dengan harga yang tinggi, klien akan tetap setia menggunakan
jasa perawat dengan harapan-harapan yang diinginkan klien.Masyarakat ternyata
sangat mengharapkan sosok perawat yang profesional dan memiliki citra yang baik
dalam bersikap dalam arti lembut, sabar,penyayang, ramah, sopan dan santun saat
memberikan asuhan keperawatan terhadap masyarakat.
Namun,
dalam kehidupan sehari-hari kita masih sering menemukan perilaku kurang
baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan
profesinya di rumah sakit. Mulai dari perawat yang identik dengan sombong,
tidak ramah, pemarah, kurang komunikasi dengan klien, serta kurang cepat
menanggapi keluhan dari klien sehingga saat ini perawat masih dinilai belum
dapat mencerminkan tenaga perawat yang profesional dan citra perawat belum
sesuai dengan harapan masyarakat.
Hal ini yang
menjadikan citra perawat di Indonesia masih kurang baik. Maka dari itu
diperlukan langkah kongkrit untuk merubah citra perawat di indonesia. Bukan
hanya satu dua orang saja yang harus membela ini. Namun seluruh elemen
keperawatan harus juga mendukung langkah perubahan citra perawat di masyarakat.
3.3 Upaya Perawat dalam Menanggapi
Presepsi Masyarakat
- Hindari Penghinaan: Janganlah pernah melakukan hal-hal yang bersifat merendahkan, ejekan,
dan penghinaan dalam bentuk apapun terhadap orang lain, baik tentang
kepribadiannya, postur tubuhnya, kemampuannya dan kaadaan sosialnya. Hal
ini akan menimbulkan perasaan sakit hati dan dendam terhadap seseorang.
- Hindari Ikut Campur Urusan
Pribadi: Hindari ikut campur urusan
pribadi orang lain yang tidak ada manfaatnya bagi kita, bila terlibat.
Karena bila kita melakukannya, yang muncul hanyalah ketidaksuka-sukaan di
salah satu pihak.
- Hindari Memotong Pembicaraan: Janganlah suka memotong pembicaraan orang lain, jika hal ini dilakukan
dalam bergaul akan berkembang menjadi ketidaksukaan bahkan kebencian dapat
bersarang ditubuh seseorang. Karena betapa tidak enaknya bila kita sedang
bicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal oleh orang lain.
- Hindari Membanding-bandingkan:
Sedikitpun jangan sekali-kali
secara sengaja membanding-bandingkan orang lain, baik itu berupa jasa,
kebaikan penampilan, perbuatan, harta dan sebagainya. Jika orang tersebut
mendengarkan menyebabkan dia merasa dirinya tidak berharga, merasa rendah
diri atau sampai terhina.
- Jangan membela musuhnya dan
mencaci kawannya: Setiap orang mempunyai kawan
yang disukai maupun yang dibenci. Bila membela musuhnya, maka kita akan
bergabung dengan musuhnya. Sedangkan apabila kita membenci kawannya maka
kita akan dianggap sedang mencaci dirinya. Karena orang itupun akan merasa
terhina bila temannya dihina. Sebaiknya bersikaplah netral untuk kebaikan
semua pihak. Sementara itu, dalam bergaul seharusnya kita prioritaskan
adalah memperbanyak kawan bukan lawan.
- Hindari Merusak Kebahagiaan: Bila seseorang tengah suka cita, gembira dan bahagia jangan
sekali-kali kita melakukan tindakan yang merusak kebahagiaan atau
kegembiraannya saat itu juga.
- Jangan Mengungkit masa
Lalunya: Janganlah pernah mengungkit
kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutup-tutupi. Siapa
tahu kelemahan di masa lalu sudah terhapus dengan ia bertaubat. Belajarlah
untuk selalu bersama-sama memulai lembaran baru yang lebih putih, bersih
dan bersemangat untuk mengisi lembaran tersebut dengan kebaikan demi
kebaikan.
- Hati-hati dengan marah: Kemarahan yang tak terkendali dapat menghasilkan kata dan perilaku
yang keji, yang akan melukai perasaan orang lain. Hal ini tentunya dapat
merusak atau menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun.
- Hindari Menertawakan Orang lain: Sebagian besar sikap menertawakan muncul karena menyaksikan kekurangan orang lain. Sikap, penampilan dan wajah terkadang membuat sebagian orang tertawa karena terlihat lucu dimata mereka. Ingatlah tertawa yang tidak pada tempatnya akan mengundang rasa sakit hati dan merasa terhina.
3.4 Membangun Citra Perawat yang Positif Dimata
Masyarakat
Sudah banyak hal dilakukan demi
membangun citra perawat dimata masyarakat.
1. Salah satunya adalah kesepakatan
dari PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) yang melakukan uji kompetensi
keperawatan yang diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pada pasien dalam
melakukan tugasnya.
2. Kegiatan seminar yang
diselanggarakan institusi-institusi tertentu dengan bekerja sama dengan
organisasi yang ada.
3. Hingga pengadaan kegiatan rutin
dalam bidang keperawatan demi meninggkatkan kualitas kerja perawat di lapangan kerja.Namun,
tidak dipungkiri penyebaram informasi melalui media massa sanggat dibutuhkan
demi peningkatan citra perawat sehingga bukan hal yang tidak mungkin akan
merubah citra perawat yang tadinya buruk menjadi citra yang baik dimata
masyarakat.
4. Menggunaan media massa dalam
penyebaran informasi tentang peran perawat serta keramahan perawat dalam
menjalankan tugasnya
5. Keoptimalan dan kerja sama antara
perawat, instansi terkait dan masyarakat akan sangat membantu dalam peninggakat
citra perawat tersebut, oleh sebab itu marilah kita menjadikan isu ini untuk
memacu semangat kita membangun citra perawat dimana ini sebagai profesi yang
kita emban agar menjadi citra yang baik dimata masyarakat.
6. Dalam penggunaannya, media masa
dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk mempromosikan kinerja perawat
professional sebagai pembuktian kesalahan citra yang terlanjur tertanam dalam
masyarakat. Jika melirik dari segi media masa elektronik, tenaga kesehatan yang
marak muncul saat ini yaitu dokter dengan promosi rajin menyikat gigi malam
hari, atau bidan dengan program BKKBN yang sedang marak di tayangkan di media
masa. Lalu bagai mana dengan perawat?. Dengan wacana seperti ini bukan tidak
mungkin perawat hadir dengan program senyum, sapa, salam, yang mampu memberikan
informasi maksimal dalam pelayanan masyarakat. Bahkan bisa jadi perawat hadir
dengan inofasi baru seperti melakukan penyuluhan pencegahan HIV-AIDS dengan
secara berkala, maupun mengadakan tukar pendapat dengan beberapa perawat di
lain daerah maupun di lain Negara. Hal-hal yang demikian yang secara tidak
langsung memperbaiki citra perawat di mata masyarakat.Pengembangan-pengembangan
informasi yang seharusnya dapat perawat tunjukkan dengan cara penyatukan
berbagai opini perawat dari berbagai tempat, setidaknya akan lebih membantu
memperkaya ide demi memajukan citra perawat itu sendiri.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Perawat adalah petugas medis yang
memang paling banyak jasanya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Tanpa panggilan
jiwa, seorang perawat akan sulit melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal inilah
yang menjadikan pandangan tentang perawat kurang bagus di masyarakat. Jadi,
berpikirlah dua kali bila ada yang berpikiran jelek terhadap perawat,
karena dibalik semua itu, mereka mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar
dalam pelayanan kesehatan.
Tetapi Peran dan Fungsi Perawat
bukan hanya pada saat melakukan pekerjaannya di Institusi Kesehatan saja,
melainkan Perawat juga harus bisa hidup di tengah tengah masyarakat, maka dari
itu, untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang baik, menciptakan kehidupan
bertetangga yang baik, maka seorang perawat harus bisa menyesuaikan diri untuk
hidup di masyarakat.
4.2 Saran
Seorang perawat dan mahasiswa
keperawatan di dalam berkehidupan di masyarakat haruslah memperhatikan norma
dan etika yang berlaku di masyarakat, karena etika memberi manusia orientasi
bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari dan membantu
kita mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang
perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek
atau sisi kehidupan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat (2007), Pengantar Konsep Dasar
Keperawatan Edisi II, Salemba Medika, Jakarta
Rideout,
Elizabet.2001.Transforming Nursing Education Through Problem-Based Learning.
Oleh Novieastari, Enie, dkk.Pendidikan Keperawatan Berdasarkan Problem Based
Learning.2001. Jakarta:EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar